Ancaman Tehadap Keanekaragaman Hayati Laut


Ancaman Tehadap Keanekaragaman Hayati Laut

Indonesia kembali menjadi tuan rumah pertemuan Internasional. Dalam waktu bersamaan, dua perhelatan akbar diselenggarakan di Kota Manado, Sulawesi Utara, yakni Konperensi Kelautan Dunia atau “World Ocean Confrence (WOC)” serta Pertemuan Inisiatif Segi Tiga Terumbu Karang alias “Coral Triangle Initiative Summit. ”

Penyelenggaraan WOC memang gagasan Indonesia, dan di dalam sejarah kelautan, pertemuan ini merupakan event Internasional pertama membahas masalah kelautan secara komprehensif. Karena itu, banyak kalangan berharap WOC berjalan sukses, dan dapat dijadikan titik awal bagi pembangunan di sektor kelautan yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Selama ini, perhatian terhadap dunia kelautan memang masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan perhatian terhadap daratan. Pada hal, laut merupakan bagian terbesar –mencakup 70%— dari planet bumi. Potensi sumber daya alam laut juga jauh lebih besar dan beraneka ragam, termasuk sumber daya hayatinya. Namun, implikasi dari rendahnya perhatian terhadap laut, maka kemampuan memanfaatkannya juga rendah.

Beberapa sosiolog bahkan berpendapat bahwa masyarakat Indonesia yang mendiami wilayah negara kepulauan pun sesungguhnya belum menjadi bangsa bahari. Karena sebagian besar masih menggantungkan penghidupan pada sumber daya yang terdapat di daratan. Selain itu, dalam perilaku kehidupan sehari-hari juga belum menunjukkan kecenderungan yang menjadikan laut sebagai sandaran penghidupan yang patut dijaga dan dipelihara kelestariannya.

Tapi pada kenyataannya sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjadikan laut sebagai tempat pembuangan akhir sampah dan limbah. Minimnya sarana pengolahan limbah dan sampah, serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam menangani sampah dan limbah secara baik dan benar telah menjadikan laut ini sebagai sasaran buangan limbah dari berbagai macam aktivitas manusia.

Akumulasi limbah dan sampah di dalam laut, pada akhirnya langsung atau pun tidak langsung mengganggu keselamatan dan kelestarian sumber daya alam yang terdapat di perairan laut. Pada hal menurut para ilmuan, ekosistem laut memiliki pengaruh yang besar terhadap keberlangsungan hidup di muka bumi ini. Perilaku manusia semena-mena, menjadi faktor utama penyebab degradasi mutu lingkungan di perairan laut. Adaptasi alami aneka biota laut terhadap perubahan kondisi lingkungan, semakin sulit terjadi akibat tingginya kadar pencemaran limbah. Baik yang terbawa oleh aliran sungai, dari pembuangan sampah penduduk pesisir pantai atau dari kapal-kapal yang melintas di perairan laut.

Penangkapan ikan dengan tidak mematuhi kaidah lingkungan, serta perusakan terumbu karang juga memiliki kontribusi besar bagi keanekaragaman hayati perairan.

Kesalahan Pengelolaan Limbah
Saat ini, pencemaran laut oleh limbah dan sampah telah menjadi masalah serius. Di wilayah DKI Jakarta saja, misalnya, pencemaran air laut Jakarta telah mencapai radius 60 km atau seluas kawasan Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu. Pencemaran itu disebabkan dari limbah domestik perkotaan maupun industri, kemudian mencemari Sembilan sungai di Jakarta yang bermuara di Teluk Jakarta.

Beberapa penelitian mengungkapkan perairan Teluk Jakarta terindikasi mengandung logam berat Pb (timbal), Cd (cadmium), dan Cu (tembaga). Dalam hal mutu, kualitas air laut di sekitar Kepulauan Seribu nilai rata-rata kandungan organiknya antara 20,88-38,46 mg/I. Kandungan amonia yang tidak terdeteksi mencapai 0,38 mg/I, sedangkan baku mutu air laut untuk amonia <0,3 mg/l. Kandungan logam berat untuk Cu berkisar 0,03-0,08 mg/I dan Zn (seng) berkisar 0,15-0,40 mg/I. Sedangkan kandungan nikel, timah hitam, cadmium, chromium, dan fenol tidak terdeteksi.

Dengan kondisi air seperti ini maka mutunya menjadi tidak layak untuk di minum. Akar penyebabnya adalah pengelolaan limbah yang salah. Kesalahan itu tidak hanya dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai yang masih tradisional, tapi juga oleh fasilitas pariwisata yang sudah dikelola dengan cara modern. Banyak hotel, tempat penginapan, cottage modern, namun tetap tradisional dalam pengelolaan limbah.

Jika kebiasaan ini tidak segera diubah dengan memperbaiki pola pengelolaan limbah, lambat laun wisatawan enggan berkunjung karena lokasinya sudah tercemar. Pencemaran laut oleh limbah dan sampah memang telah menjadi persoalan dunia dewasa ini. Sebab selain dapat mengurangi mutu obyek wisata, juga menjadi ancaman bagi kehidupan fauna dan flora laut.

Beberapa laporan penelitian menyebutkan, sampah plastik kini telah menjadi faktor pembunuh beberapa jenis hewan laut, termasuk terumbu karang. Pengelolaan limbah dan sampah di kawasan pesisir terutama di kawasan wisata memang tidak bisa sembarangan. Dengan cara pengendapan ke dalam tanah, jelas tidak cukup, sebab pasti kandungan racun yang mengendap ke tanah, bakal terbawa aliran air hujan ke laut. Dengan demikian, sama saja dengan tidak diolah. Pengelolaan limbah seperti ini jelas salah, dan akibatnya kelestarian fauna dan flora laut terus terancam, apalagi bila kemudian bercampur dengan olie dan minyak buangan kapal-kapal.

Mengubah kebiasaan membuang limbah dan sampah ke laut memang tidak mudah. Namun tentu bukan hal yang mustahil, sebab sesungguhnya perilaku masyarakat dapat diubah asalkan ada upaya serius dari semua pihak. Salah satu pendekatan kearah perubahan perilaku adalah dengan penegakkan hukum yang konsisten dan kontinyu, dan pemerintah dalam hal ini Kementerian Negara Lingkungan Hidup tampak berusaha menyiapkan perangkat hukum, seperti Undang-Undang Pengelolaan Sampah, dan sebagainya yang dapat dijadikan acuan bersama. 
Paulus Londo

Sumber:
Suara Akar Rumput (hal 5)
07-13 Mei 2009

By ardigandara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s